Profil Pesantren Darullughah Wadda'wah

Pesantren Darullugah Wadda'wah Bangil - Sebelumnya karuhun sempat menuliskan salah satu pesanten moderen dari Jawa Barat, yaitu Pesantren Modern Ummul Quro Bogor. Kali ini pun pembahasannya masih tentang pesantren yang berasal dari Bangil Pasuruan.

Berawal dari keyakinan kuat sang pendiri, Abuya Habib Hasan Baharun kepada bahasa Arab sebagai ibu bahasa Islam dan Dakwah sebagai nadi yang menghidupkan syi'ar Islam, Pondok pesantren Darulughah Wadda'wah lahir sebagai jawaban kebutuhan masyarakat akan pesantren ideal. Dengan usia tak lebih dari 35 tahun, pesantren ini telah menjelma menjadi lebaga pendidikan dengan kemajuan pesat dalam segala lini pendidikan dari awal berdiri pada tahun 1981 baik dalam segi kurikulum, metode pengajaran, jumlah santri maupun kondisi saran serta infrastruktur pendidikan.

Kini Darulughah Wadda'wah dikenal sebagai salah satu pesantren terpandang dan mendpat amanah untuk mendidik 4000 santri dari segala penjuru Nusantara. Pasca wafatnya Muassis, pesanten diasuh keluarga dengan Habib Zain Hasan sebagai mudirul ma'had dibantu sang adik Habib Segaf Baharun yang mengasuh pesantren purtri dan Habib Ali Hasan Baharun bertanggung jawab pada pesantren Darullugah Wadda'wah II sebagai wadah bagi santri usia remaja.

bangunan pesantren dalwa darul lughah wad da'wah
foto pesntren

Berbicara tentang Darullugah yang terus berkembang mengharum, tidak lepas dari peran besar pendirinya dalam membangun dasar yang kuat sebagai pesantren modern yang sangat lekat dengan manhaj salafnya. Beliau adalah Habib Hasan bin Ahmad Baharun, ayahanda dari mudirul ma'had Darulugah saat ini, habib Zain bin Hasan Baharun. Habib Hasan lahir di Sumenep, 11 Juni 1934 sebagai putra pertama dari empat bersaudara. Orang tua beliau, Al Habib Ahmad bin Husein dan Ibunda Fatmah binti Ahmad Bachabazy, berjasa besar dalam membentuk karakter dan kepribadian luhur sehingga beliau tumbuh sebagai figur yang berakhlak dan memiliki sifat terpuji. Pendidikan agama selain diperoleh dari bimbingan orang tua, juga beliau dapatkan dari Madrasah Makarimul Akhlaq, Sumenep, dan dari kakek beliau dari pihak ibu yang dikenal sebagai ulama besar dan disegani di Kabupaten Sumenep yaitu Ustadz Achmad bin Muhammad Bachabazy. Beliau sering diajak untuk mendampingi dalam berbagai undangan dakwah. Sepeninggal kakek beliau, dilanjutkan dengan belajar ilmu agama dari Ustadz Usman bin Ahmad Bachabazy, paman beliau. Sewaktu menetap di Surabaya, beliau menjadi murid kesayangan seorang ulama yang faqih (ahli fikih), Habib Umar Baagil. Kepada guru inilah beliau banyak memperdalam ilmu fikih.

Semasa remaja beliau senang berorganisasi, baik remja masjid ataupun organisasi lainnya, seperti Persatuan Pelajar Islam (PII), bahkan beliau pernah diutus untuk mengikuti Muktamar I PII seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Semarang. Pernah menjabat ketua Pandu Fatah Al Islam di Sumenep. Beliau aktif pula di partai politik yaitu Partai NU (Nahdlatul Ulama) dan menjadi juru kampanye yang dikenal berani dan tegas menyampaikan kebenaran. Dan di Pasuruan menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) sampai akhir hayat beliau.

Pada tahun 1966 beliau merantau ke Pontianak, Kalimantan Barat. Satu hal unik yang beliau lakukan semasa berdakwah di Pontianak adalah, beliau senantiasa membawa seperangkat peralatan pengeras suara. Beliau juga membawa satir/tabir sebagai kain pemisah untuk mendhindari terjadinya "ikhtilat" (percampuran) antara laki-laki dan perempuan. Beliau berkeyakinan, jika di tempat tersebut terjadi perbuatan maksiat atau dosa, sudah tentu beliau turut berdosa, sudah tentu beliau turut berdosa. Alasan lainnya adalah hal tersebut akan menghalangi masuknya hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala, sedangkan pahala dakwah itu sendiri belum tentu diterima Allah.

Saat beliau aktif di partai politik yaitu Partai NU dan menjadi juru kampanye, karena keberanian dan ketegasan beliau dalam menyampaikan kebenaran, beliau sempat diperiksa dan ditahan oleh pemerintahan order baru yang sedang berkuasa saat itu. Namun masyarakat yang mengetahui hal itu mengultimatum akan melakukan demonstrasi besar-besaran apabila beliau tidak seger dikeluarkan, kemudian atas bantuan paman belialuah akhirnya pemerintah membebaskan dari tahanan. (Biografi, 2011)

Pada tahun 1972 beliau mengajar di pondok pesantren Gondanglegi Malang, mengembangkan Bahas Arab, sehingga pondok pesantren Gondanglegi pada saat itu terkenal maju dalam bidang Bahas Arab. Kemudian beliau melanjutkan mengajar dan mengabdikan diri di poondok pesantren Al-Khairiyah Bondowoso, bersama Ustadz Abdullah Abdun dan Habib Husein Al-Habsy. Pada masa itu beliau juga diminta oleh Habib Husein Al-Habsy untuk mengajar di pondok pesantren Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) yang baru dirinits Habi Husein. Selain itu beliau juga pernah mengajar di pondok pesantren Sigogiri di Pasuruan, Pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus di Situbondo dan pondok pesantren Langitan di Tuban. Pada tahun 1975 sampai 80-an beliau mulai menulis buah karya yang berciri pengembangan bahasa arab. Diantaranya Kitab Muhawaroh jilid satu dan dua, serta kamus modern Ashriyah.

Berbekal latar belakang pengalaman dan kualitas pribadi yang matang serta kepercayaan masyarakat, Habib Hasan memutuskan untuk membuka pesantren pada tahun 1981. Pada awal pembukaan pondok pesantren tersebut beliau menerima 6 orang santri. Saat itu para santri tersebut tinggal bersama beliau di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan. Di masa-masa awal, pesantren ini masih menggunakan fasilitas rumah kontrakan sebagai tempat pembinaan santri. Keadaan ini mengakibatkan lokasi pesantren berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Sejak 1981 hingga 1984, pesantren tercatat telah berpindah sebanyak 13 kali. Hingga tahun 1985, pengasuh atas petunjuk Sayyid Muhammad Al-Maliki Makkah mendirikan bangunan permanen sebagai pusat pesantren di Desa Raci, Bangil. Ketika itu Raci merupakan desa terpencil yang minim penerangan dan belum terjangkau oleh listrik. Jumlah santri waktu itu mencapai 186 orang. Terdiri dari 142 santri putra dan 44 santri putri. Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani selaku musyrif pondok ini, selalu memberikan dukungan dan bantuan demi kelangsungan dan kemajuan pondok ini. (Biografi, 2011)

Sistem Pembelajaran

Pondok Pesantren Darullugah Wadda'wah diakui banyak pihak merupakan contoh ideal konsep pesantren. Sistem yang diterapkan memungkinkan pesantren fokus pada pemantapan pendidikan diniyah berbasis salaf. Selain itu, pesantren menyediakan pendidikan formal untuk menunjang dakwah santri ketika terjun di masyarakat.

Keputusan untuk membuka pendidikan formal terbuksti menjadi salah satu pertimbangan utama kepercayaan masyarakat karena darullugah tidak mengubah orientasi utama kepada nilai utama ajaran salaf serta mengakomodasi kebutuhan masyarakat kepada pendidikan formal. Dari rahim pendidikan inilah lahir banyak sekali kader dakwah ilam sebagaimana dipelopori para pengasuh pesantren, Habib Zain, Habib Segaf, Habib Ali serta para alumni yang tersebar dengan ratusan pesantren di penjuru Indonesia.

Mengenai pengajaran yang diberikan kepada santri yaitu materi yang terdapat dalam kitab kuning salaf yang diakui bobot dan sanadnya oleh pondok-pondok salaf Indonesia. Alokasi waktu yang diberikan untuk materi diniyah mulai dari jam 07.30 hingga jam 12.00 BBWI terbagi dalam 4 jam pelajaran.

Selain pengajaran diniyah pokok, terdapat beberapa kegiatan tambahan antara lain: kegiatan olah raga dan senam pagi dari jam 06.00 hingga 06.30 BBWI, kegiatan belajar tambahan (Halaqah Hadramiyyah) setelah shalat subuh jam 05.00 hingga 06.00 dan setelah shalat Maghrib jam 18.30 s/d 19.30 serta latihan pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris setiap malam Senin setelah shalat Isya (wajib untuk setiap santri, mulai dari kelas IV Ibtida'iyah ke atas). Ditambah lagi program tahfidz qur'an, tahfidz mutun, bahtsul masail fiqhiyyah, munaqosyah nahwiyyah, dan banyak program pengembangan lain dengan orientasi peningkatan kualitas santri.

Jenjang pendidikan madrasah diniyah di Darulugoh Wadda'wah tersedia mulai dari tingkat madrasah Ibtidaiah sampai madrasah Aliya, setelah menamatkan jenjang madrasah  Aliyah maka santri diwajibkan mengabdi atau mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah Bangil Pasuruan selama dua tahun atau dapat meneruskan keluar negeri seperti Makkah Almukarromah, Madinah atau Hadramaut (Yaman)

Program pendidikan di pesantren ini terkait dengan cita-citanya mewujudkan figur ulama profesional yang intelektual dan menjawab berbagai problem pendidikan saat ini. Lebih dari itu, pesantren berupaya tampil terpadu sebagai lembaga pendidikan islam untuk menciptakan masyarakat ilmiah yang selalu disinari oleh ajaran Islam, sehingga santri alumni memiliki kemantapan akidah dan kedalaman spiritual. Santri diharapkan menadi pemimpin, ulama serta kader muslim yang tangguh dan berwawasan luas, kritis dan mempunyai kepribadian yang paripurna. Atas dasar tersebut Abuya Habib Hasan Baharun mewajibkan santrinya untuk berpartisipasi dalam pendidikan formal yang beliau dirikan.

Berangkat dari semangat dan cita-cita luhur tersebut Abuya Habib Hasan Baharun mendirikan
  • MI (Madrasah Ibtida'iyah)
  • MTs (Madrasah Tsanawiyah)
  • MA (Madrasah Aliyah)
Pada tanggal 17 Juli 1992. Kemudian pada tahun 1995, Abuya mendirikan sebuah perguruan tinggi swasta dengan nama STAI Darullughah Wadda'wah. Dalam perkembangannya pendidikan formal berhasil menjaga kualitas dan mencapai prestasi sambil melakukan pengembangan. Saat ini, STAI Darullughah Wadda'wah telah memiliki program pendidikan Pasca Sarjana (S2) dan sedang berupaya meningkatkan statusnya menjadi Institut

Secara umum, terdapat tiga keunggulan utama yang dimiliki pesntren ini dalam spesifikasi pengembangan pendidikan.
  1. Penguasaan dan pengajaran Bahasa Arab secara intensif, Darullugoh Wadda'wah diakui sebagai induk pesantren yang menghidupkan bahasa arab di Indonesia. 
  2. Memiliki jaringan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam dan perguruan tinggi luar negeri khusunya dari Timur Tengah
  3. Melaksanakan program terpadu antara kurikulum pondok pesantren dan kurikulum pendidikan nasional. Semoga Darullughah Wadda'wah terus bersinar sejalan dengan cita-cita mulia Izzul Islam wal Muslimin
Sumber : Majalah New Mafahim - Hai'ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah - Amiruddin Fahmi

0 comments

Post a Comment